Minggu, 05 November 2017

MENERAPKAN POLA ASUH KONSISTEN PADA ANAK AUTIS



RANGKUMAN (PENDIDIKAN UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS)

MENERAPKAN POLA ASUH KONSISTEN PADA ANAK AUTIS

Penulis : Rina Mirza (Praktisi dan Dosen Psikologi) 

 PENDAHULUAN
            Istilah autis pertama sekali diperkenalkan oleh Leo Kramer, pada tahun 1943. Berdasarkan pengamatan terhadap 11 penyandang, ia mendapati gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, perilaku yang tidak biasa dan cara berkomunikasi yang aneh, terlihat acuh terhadap lingkungan dan cenderung menyendiri, seakan ia hidup dalam dunia yang berbeda.
            Secara umum, gangguan autis adalah suatu gangguan proses perkembangan, sehingga anak yang mengalami autis memerlukan terapi untuk membantunya dalam merubah perilakunya agar dapat bertahan dimasa yang akan datang. Kemudian, untuk  jenis terapi apapun yang dilakukan untuk membantu anak autis akan memerlukan waktu yang lama. Terapi yang dilakukan ini nantinya harus terpadu dan setiap anak membutuhkan jenis terapi yang berbeda pula tentunya sesuai kebutuhan si anak. Dalam hal ini, orang tua mempunyai peran dan tanggung jawab yang besar dalam mendidik anak-anaknya, termasuk anak dengan autis ini. Penerapan pola asuh yang diberikan orang tua secara konsisten juga mempunyai peranan yang penting dalam upaya membantu anak autis untuk dapat bertahan dengan kondisi lingkungan kedepannya.
 
PENGERTIAN AUTISME
            Autisme merupakan keabnormalan yang jelas dan gangguan perkembangan dalam interaksi sosial, komunikasi, keterbatasan yang jelas dalam aktivitas dan ketertarikan. salah satu gangguan perkembangan pervasif ini diakibatkan oleh tiga hal utama, (1) pengasingan yang ekstrim; (2) kebutuhan patologis akan kesamaan; (3) cara berbicara yang tidak komunikatif termasuk kalimat-kalimat yang tidak sesuai dengan situasi.
            Karakter yang menunjukkan seseorang menderita autis, yakni kesulitan dalam melakukan hubungan sosial, kemudian kesulitan dengan kemmapuan komunikasi secara verbal dan non verbal, yang terakhir yaitu kesulitan untuk mengembangkan permainan dan imajinasi
GEJALA AUTISME
Berikut adalah beberapa gejala yang ditunjukan oleh anak autisme adalah sebagai berikut: 
  1. Gangguan dalam berkomunikasi. Yakni diantaranya perkembangan bahsa anak sangat lambat, kadang anak menggunakan kataa-kata yang tiak sesuai artinya, sering membeo, mengoceh tanpa arti berulang-ulang sehingga banyak orang tidak paham dengan komunikasi yang anak tunjukan. 
  2. Interaksi sosial. ditujukan dengan anak lebih suka menyendiri, menghindar untuk bertatapan, tidak tertarik untuk bermain bersama teman, apabila diajak bermain ia tidak mau dan menjauh
  3.  Gangguan sensoris. Anak sangat sensitif terhadap sentuhan, apabila mendengar suara yang keras langsung menutup telinga, anak senang mencium-cium, menjilat mainan atau benda-benda.
  4. Pola bermain. Ditunjukan dengan anak tidak bermain seperti anak-anak pada umumnya, tidak suka bermain dengan anak-anak sebayanya, tidak kreatif dan imajinatif.
  5. Perilaku. Anak cenderung hiperaktif atau hipoaktif, anak tidak suka pada perubahan dan terkadang duduk dengan tatapan kosong.
  6.  Emosi. Sering marah-marah, tertawa dan menangis tanpa alasan yang jelas b. Temper tantrum, terkadang suka menyerang dan merusak. 
PENYEBAB AUTIS
        Ada faktor pencetus yang dapat menyebabkan autisme seperti ditinggal oleh orang terdekat secara mendadak, punya adik, sakit berat bahkan ada yang gejalanya timbul setelah mendapatkan imunisasi (Budhiman, 1998).
            Sedangkan menurut  Acocella (1996) menyebutkan bahwa ada tiga perspektif yang bisa digunakan untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab autisme, yaitu:
  1. Perspektif psikodinamika, penyebab dari autisme karena adanya penolakan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya.
  2.  Perspektif biologis, yakni lebih menekankan pada genetik.
  3. Perspektif kognitif, teori-teori yang ada dalam perspektif ini, gangguan pada anak autisme disebabkan karena adanya masalah dalam mengatur dan menyatukan input.  
TERAPI AUTIS
  1. Applied Behavioral Analysis (ABA).  Sistem yang dipakai adalah memberi pelatihan khusus pada anak dengan memberikan positive reinforcement (hadiah/pujian) setiap kali anak berespon benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment).
  2. Terapi wawancara, yakni sebuah terapi untuk anak dengan gangguan autisme yang menyangkut dengan gangguan/ keterlambatan dalam aspek bahasa.
  3. Terapi okupasi, Dalam hal ini terapi okupasi sangat penting untuk melatih mempergunakan otot-otot halusnya dengan benar.
  4. Terapi fisik, terapi ini akan sangat banyak menolong untuk menguatkan otot-ototnya dan memperbaiki keseimbangan tubuhnya.
  5. Terapi sosial, membantu dengan memberikan fasilitas pada mereka untuk bergaul dengan teman-teman sebaya. 
POLA ASUH YANG KONSISTEN
            Pola asuh yang konsisten adalah menerapkan pola asuh dengan aturan yang jelas dan fleksibel serta adanya kesepakatan diantara keluarga di rumah. Jika ada konsekuensi, beritahu dan disepakati sejak awal. Hal ini akan membantu mendorong anak untuk mandiri, terutama berkaitan dengan merawat diri sendiri.
            Dalam hal ini, Orang tua pun dituntut konsisten dalam pendidikan bagi anaknya, yakni dengan bersikap dan memberikan perlakukan terhadap anak sesuai dengan program pendidikan yang telah disusun bersama antara pembimbing dan orang tua sebagai wujud dari generalisasi pembelajaran di sekolah dan dirumah. 

POLA ASUH UNTUK ANAK AUTIS
  1. Terstruktur, Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik diterapkan prinsip terstruktur, artinya dalam pendidikan atau pemberian materi pengajaran dimulai dari bahan ajar/materi yang paling mudah dan dapat dilakukan oleh anak. Setelah kemampuan tersebut dikuasai, ditingkatkan lagi ke bahan ajar yang setingkat diatasnya namun merupakan rangkaian yang tidak terpisah dari materi sebelumnya.
  2. Terpola, Kegiatan anak autistik biasanya terbentuk dari rutinitas yang terpola dan terjadwal, baik di sekolah maupun di rumah (lingkungannya), mulai dari bangun tidur sampai tidur kembali. Oleh karena itu dalam pendidikannya harus dikondisikan atau dibiasakan dengan pola yang teratur. 
  3.  Terprogram, Prinsip dasar terprogram berguna untuk memberi arahan dari tujuan yang ingin dicapai dan memudahkan dalam melakukan evaluasi. Sebab dalam program materi pendidikan harus dilakukan secara bertahap dan berdasarkan pada kemampuan anak, sehingga apabila target program pertama tersebut menjadi dasar target program yang kedua, demikian pula selanjutnya.
  4. Konsisten,  Dalam pelaksanaan pendidikan dan terapi perilaku bagi anak autistik, prinsip konsistensi mutlak diperlukan. Artinya : apabila anak berperilaku positif memberi respon positif terhadap susatu stimulan (rangsangan), maka guru pembimbing harus cepat memberikan respon positif (reward/ penguatan), begitu pula apabila anak berperilaku negatif (Reniforcement).
  5. Kontinyu, Pendidikan dan pengajaran bagi anak autistik sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Kontinyu disini meliputi kesinambungan antara prinsip dasar pengajaran, program pendidikan dan pelaksanaannya. Kontinyuitas dalam pelaksanaan pendidikan tidak hanya di sekolah, tetapi juga harus ditindaklanjuti untuk kegiatan dirumah dan lingkungan sekitar anak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar