Kamis, 19 Mei 2016

BERMAIN SEBAGAI PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI

BERMAIN SEBAGAI PEMBELAJARAN  ANAK USIA DINI
Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia
Doden pengampu:
Siti Zubaedah,S.Ag.,M..pd








Disusun oleh :
Nama   : Dian Lestari
NIM    : 15430079
Kelas   : PGRA 1 C
No.abs : 7

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU RAUDLATUL ATHFAL
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2015/2016



KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Bahasa Indonesia dengan materi pembahasan “ Bermain Sebagai Pembelajaran Anak Usia Dini ” ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Siti Zubaedah,S.Ag.,M..p selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas ini kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan, pengetahuan serta penunjang atau referensi materi mata kuliah Bahasa Indonesia terkait memahami Bermain Sebagai Pembelajaran Anak Usia Dini. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang.
Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi. perbaikan di masa depan.
                                                                                                                                

Yogyakarta, 7 Desember 2015



Penyusun





PENDAHULUAN
            Pendidikan usia dini merupakan usaha pemerintah dengan tujuan agar anak-anak Indonesia memiliki bekal persiapan ketika melanjutkan pendidikan kejenjang yang lebih tinggi. Dalam implementasinya, PAUD berfugsi membina, dan menumbuh kembangkan seluruh potensi  anak secara optimal, agar terbentuk perilaku dan kemampuan dasar yang selaras, serasi,dan seimbang dengan tahap perkembangannya sehinggga memiliki keesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya dalam mewujudkan tujuan nasional. Tujuan pendidikan pada dasarnya mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik intelektual, moral, maupun sosial anak agar dapat hidup mandiri sebagai individu dan maphluk sosial.
            Media dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran sangat dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran. Contoh dari media pembelajaaran anak usia dini yang paling efektif dan efisien tepapai menunjukan hasil yang sempurna adaalah melalui bermain.
            Bermain merupakan aktivitas yang paling disukai oleh semua manusia, bukn hanya manusia, tetapi juga oleh binatang. Sering kita saksikan anak kucing sedang bermain-main dengan saudaranya atau dengan temannya, demikian halnya dengan ayam dan burung peliharaan kita, semuanya suka bermain. Dengan demikian, bermain sebenarnya buakan hanya dunia anak, tetapi dunia kita semua, tidak tua, tidak muda semuanya suka ermain. Bagi anak usia dini, bermain erupakan kegiatan yang tidak dapat diisahkan dari setiap langkahnya sehngga semua aktivitasnya selalu dimulai dan diakhiri dengan bermain.
1.      Apa pentingnya bermain bagi anak usia dini ?
2.      Apa sajakah jenis- jenis bermain ?
3.      Bagaimana bermain di sekolah ?
4.      Bagaimana bermain bagi anak berkebutuhan khusus ?
5.      Apa masalah gender dalam bermain ?
6.      Bagaimana guru dalaam bermain?
7.      Bagaimana proses bermain seraya belajar ?
8.      Bagaimana proses belajar seraya bermain ?
1.      Memberi pengetahuan tentang arti pentingnya bermain bagi anak usia dini.
2.      Mengetahui jenis- jenis bermain.
3.      Memberi informasi bermain di sekolah.
4.      Memberi pengetahuan mengenai bermain bagi anak berkebutuhan khusus.
5.      Mengetahui masalah gender dalam bermain.
6.      Memberi informasi mengenai guru dalaam bermain.
7.      Mengetahui proses bermain seraya belajar.
8.      Mengetahui proses belajar seraya bermain.



PEMBAHASAN
            Bermain bagia anak usia dini  dapat mem pelajari  dan belajar banyak hal, dapat mengenal aturan, bersosialisasi , menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama, dan menjunjung tinggi sportivitas. Disamping itu,aktivitas bermain juga dapat mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa, dan keterampilan motorik anak usia dini. Oleh karena itu, bagi anak usia dini, tidak adaa hari tanpa bermain, dan bagi mereka merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat penting.
            Bermain juga menjadi prinsip pembelajaran di Taman Kanak-Kanak karna bermain merupakan cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak usia dini. Sebelum sekolah, bermain merupakan cara ilmiah anak untuk menemukan lingkungan, orang alain dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya bermain menggandung rasa senang dan lebih mementingkan proses daripada hasilnya.
            Bermain sebaagai pendekatan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia dan kemampuan anak didik , sehingga dalam bermain haarus memperhatikan kematangan dan tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat bantu, metode yang diguanakan, waktu dan tempat serta teman bermain. Melalui kegiatan bermain yang dilakukan anak, guru akan mendapat gambaran tentang tahap perkembangan dan kemampuan umum mereka.[1]
            Berdasarkan berbagai pengamatan terhadap kegiatan anak-anak dalam bermain, dan berbagai hasil kajian beberapa ahli yang peduli terhadap perkembangan anak, dapat dikemukakan berbagai jenis bermain yang sering dilakukan oleh anak usia dini, antara lain adalah bermain sosial, bermain benda, bermain peran dan bermain sosiodrama.
Dalam bermain sosial, gurulah yang mengamati cara bermain anak, dan dia akan memperoleh kesan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan bermain dengan teman-teemannya akan menunjukkan derajat partisipasi yang berbeda. Partern mengelompokan kegiatan bermain berdasarkan derajat partisipasi seseorang dalam bermain:
a.      Unoccupied Play ( tidak peduli) adalah kgiatan bermain ketika anak hanya mengamati kejadian yang menarik perhatiannya. Jika pendidik melihat anak masih ada pada tahap ini, ajak ia untuk memperhatikan kegiatan temannya agar muncul keinginan dan semangatnya untuk bermain.
b.      Solitary Play ( bermain soliter) adalah kegiatan bermain yang dilakukan oleh seorang anak, dan ketika bermain tidak memperhatikan apa yang dilakukan anak lain disekitarnya.
c.       Onlooker Play ( bermain sebagai penonton ) adalah bentuk bermain ketika anaak hanya sebagai penonton saja, anak bermain sendiri sambil melihat anak lain bermain di dalam ruangan yang sama.
d.      Parallel Play ( bermain pararel) dalah kegiatan bermain yang dilakukan sekelompok anak dengan mengguanakan alat permainan yang sama, tetapi masing-masing bermain sendiri-sendiri.
e.       Assosiative Play ( bermain asosiatif ), adalah kegiatan bermain yang dilakukan oleh beberapa anak besama-sama, tetapi tidak ada pengaturan.
f.        Cooperative Play ( bermain bersama ), adalah kegiatan bermain ketika masing-masing anak menerima peran yang diberikan, dan dalam mencapai tujuan bermain, mereka masing-masing melakukan peranya secara tergantung satu sama lain dalam mencapai tujuan bermain. Dalam bermain kooperatif, anak-anak dari berbagai kelompok usia akan menunjukan tahapan perkembangan bermain sosial yang berbeda-beda.[2]
            Bermain dengan benda merupakan kegiatan bermain ketika anak dalam bermain menggunakan atau mempermainkan benda-benda tertentu, dan benda-benda tersebut dapat menjadi hiburan yang menyenangkan bagi anak yang bermainnya. Oleh karena itu, lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini harus menyiapkan berbagai permainan, sekaligus menyediakan benda-benda yang dapat digunakan secara aman dan nyaman bagi anaak-anak dalam bermain.
            Beberapa tipe bermain dengaan benda menurut Piaget ( 1962 ) adalah sebagai berikut :
a.       Bermain praktis adalah bentuk bermain ketika anak-anak melakukan berbagai kemungkinanmengeksplorasi berbagai objek yaang digunakan.
b.      Bermain simbolik adalah bentuk bermain diman anak-anak menggunakan imajinasi dalam bermain.
c.       Bermain dengan aturan adalah bentuk bermain yang dapat dilakukan secara optimal apabila syarat-syaarat dalam bermain dipenuhi dan dipatuhi oleh semua anak yang yang sedang bermain. Syartat-syarat tersebut, antara lain berkaitan dengan waktu ( time ), tempat ( pleace ), peralatan ( things ), teman ( fellows ), aturan ( rules ).[3]
                Pendidikan anak usiaa dini sering dihadapakan oleh berbagai masalah, baik yang berkaitan dengan bidang pengembangan maupun menyangkut hubungan sosial. Melalui permain peran, anak dapat mencoba ngeksplorasi hubungan antarmanusia dengan cara memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama dapat mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah.
            Sebagai suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial. Dari dimensi pribadi model ini membantu anak-anak menemukan makna dari lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Maka dari itu, melalui model ini anak-anak diajak untuk belajaar memecahkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman temannya.
a.       Konsep peran
            Peran dapat didefiisikan sebagai suaatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan, sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukan oleh individu terjadap individu yang lain. Permainan yang dimainkan individu dalam hidupnya dipengaruhi oleh perseepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain. Oleh karena itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebuttidak terbatas pada tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap. Bermain peran berusaha membantu  individu untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil mengerti perasaan, sikap dan nilai-nilai yang mendasarinya.
b.      Tujuan bermain peran dalam PAUD
            Bermain peran dalam pendidikan anak usia dini merupakan usahan untuk memecahkan masalah melalui peragaan, serta lankah-langkah identifikasi masalah, analisis, pemeranan, dan diskusi.
            Hakikat bermain peran dalam pembelajaran PAUD terletak pada keterlibatan emosional pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan anak-anak mampu mengeksplorasi perasaan-perasaannya, memperoleh wawasan tentang sikap, nilai dan persepsi, mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan dapat mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.
c.       Asumsi-asumsi pembelajaran
            Terdapat empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermaain peran untuk mengembangkan perilaku dan nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model pembelajaran yang lainnya. empat asumsi tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Bermain peran secara implisit mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan menitikberatkan tema pembelajaran pada situasi “ disini pada saat ini “. Metode ini depercaya bahwa anak-anak dimungkinkan untuk menciptakan analogi-analogi mengenai situasi-situasi kehidupan nyata.
2.      Bermain peran memungkinkan anak-anak untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang tidak dapat dikenal tanpa tercemin pada orang lain.
3.      Model bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok.
4.      Model bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap, nilai, perasaan, dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui kombinasi pemeranan secara spontan.
d.      Pelaksanaan pembelajaran
            Terdapat tiga hal yang menentukan kualitas daan keefktifan bermain peran sebagai model pembelajaran, yakni kualitas pemeranan, analisis dalam diskusi, dan pandangan peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi kehidupan.
1)      Tahap pembelajaran
            Menurut Shaftel ( 1967 ) ada sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran diantaranya:
a)      Menghangatkan suasana dan memotivasi anak
Pada tahap ini termasuk mengantarkan anak-anak terhadap masalah pembelajaran. Disini peran guru mengemukakan masalah. Masalah yang dipilih sebaiknya sangat aktual, langsung menyangkut kehidupan anak, menarik dan merangsang rasa ingin tahu, serta memungkinkan berbagai alternatif pemecahan.
b)      Memilih peran dan pembelajaran.
Pada tahap ini anak-anak dan guru mendiskripsikan berbagai berbagai watak atau karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka kerjakan, kemudian anak-anak diberi kesempatn secara sukarela untuk menjadi pemeran.
c)      Menyusun tahp-tahap peran.
Pada tahap ini para pemeran menyusun garis-garis bedan adegan yang akan dimainkan. Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena anak-anak dituntut untuk bertidak dan berbicara secara spontan.
d)     Menyiapkan pengamat.
Pengamat sebaiknya dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar anak turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan aktif mendiskusikannya.
e)      Tahap pemeranan.
Pada tahap ini, anak-anak mulai beraksi secara sponan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya.
f)       Diskusi dan evaluasi pembelajaran
Dikusi akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain peran, baik secara emodional maupun secara intelektual.
g)      Pemeranan ulang
Dapat dilakukan berdasakan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif-ltrnatif pemeranan.
h)      Diskusi dan evaluasi tahap dua
Tahap ini dimaksudkan untuk menganalis hasil pemeranan ualang, dan pemecahan masalah pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas.
i)        Membagi pengalaman dan pengambilan kesimpulan
Tahp ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama bermain peran adalah memantu anak-anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman berharga dalam kehidupannya melalui kegiatan interaksional dengan teman-temannya. Mereka bercermin pada orang untuk lebih memahami dirinya.
            Keberhasilan bermain peran tergantung pada kemampuan dalam mengungkap pengalaman pribadi anak-anak. Melalui bermain peran pula anak-anak dapat berlatih untuk menerapkan prinsip-prinsip demokrasi.
2)      Sistem sosial
            Sistem sosial dari model ini disusun secara sederhana. Guru bertanggung jawab minimal pada tahap permulaan. Selanjutnya guru membimbing para pesertadidik untuk melanjutkan kegatan sesuai langkah-langkah yang diterapkan. Intervensi guru perlu dikurangi ketika bermain peran telah memasuki taham pemeranan dan diskusi, dalam kedua tahap ini peserta didiklah yang harus lebih aktif.
3)      Prinsip reaksi
            Sedikitnya terdapat lima prinsip reaksi penting dari model pembelajaran bermain peran. Pertama, guru selayaknya menerima respon anak-anak, terutama yang berkaitan dengan pendapat dan perasaanya, tanpa penilaian baik atau buruknya reaksi yang diberikan. Kedua guru membantu mengeksplorasi situasi dari berbagai segi, membantu mencari titik temu dan perbedaan dari pandangan-pandangan yang dikemukakan anak-anak. Ketiga, dengan cara menganalis, merefleksikan, dan menangkap respon anak-anak guru berupaya meningkatakan kesadaran mereka akan pandangan dan perasaan-perasaaanya sendiri. Keempat, guru perlu menekankan kepada anak-anak bahwa banyak cara untuk memainkan suatu peran.  Kelima, guru perlu meneekankan kepada anak-anak bahwa bangak cara memecahkan suatu masalah.
4)      Sistem penunjang   
            Sistem penunjang dalam bermain peran cukup sederhana, tetapi sangat penting. hal yang apaling penting dalam bermain peran adalah situasi masalah, yang biasanya secara lisan, tetapi dapat juga dikemukakan melalui lembaran-lembaran yang dibagikan kepada anak-anak. Dalam lembaran-lembaran tersebut dikemukakan perincian langkah-langkah yang akan diperaankan lengkap dengan watak pemeran masing-masing.[4]
4.   Sosiodrama  
Sosiodrama merupakan kegiatan bermain yang banyak disukai dan diminati oleh anak-anak. Smilansky ( dalam Patmonodewo, 2003:107 ) mengamati bahwa bermain sosiodarama memiliki beberapa elemen berikut:
a.       Bermain dengan melakukan imitasi.
b.      Bermain pura-pura seperti suatu objek.
c.       Bermain peran dengan menirukan gerakan.
d.      Persisten.
e.       Interaksi.
f.       Komunikasi verbal.
            Sosiodrama  memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan kreativitas, intelektual, dan keterampilan sosial.[5]
                Dalam beberapa hal bermain di ssekolah berbeda dengann bermain di rumah. Biasanya di sekolah memiliki kesempatan bermain dalam kelompk lebih besr daripada di rumah. Dalam bermain di sekolah, anak sering sekali mengalami berbagai gangguan dari teman-temannya sehingga mereka perlu belajar mengatasi gangguan berikut. Guru juga biasanya lebih sering berusaha melakukan perencanaan pembelajaran dibandingkan orang tua mereka pada umumnya.
            Bermain disekolah dapat membantu perkembangan anak apabila gurru cukup memberikan waktu, ruang, materidan kegiatan bermain yang tepat. Anak-anak membutuhkan waktu tertentu untuk mengembangkan keterampilan dalam bermain. Tersedianya ruang dan materi mainan merupakan prasyarat tumbuhnya bermain yang produktif.
            Sejalan dengan perkembangan usia dan kematangan anak, sedikit demi sedikit mereka akan mengurangi kegiatan bermain di dalam kelas, bukan karena bosan atau tidak suka lagi bermain, tetapi mereka mulai berkonsentrasi pada pembelajaran. Bermain di lembaga-lembaga pendidikan ank usia dini pada umumnya dapat dilakukan didalam dan diluar ruangan.
1.      Bermain di dalam ruangan.
            Bermain dalam ruangan biasanya leih sedikit lebih tenangdan ruanganya lebih luas karena ruangan untuk bermain biasanya dirancang dan ditata sedemikian rupa sehingga dapat dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan. Pada umumya, setiap kegiatan bermain biasanya memiliki ruangan dan anak-anak tersendiri.
            Dalam rangka memperlancar kegiatan anak dalam bermain, guru harus berusaha menyegiakan berbagai macam alat dan perlengkapan untuk memperluas ide bermain anak. Umunya kelas untuk anak usia dini memiliki saranaa bermain dengan menggunakan meja, kegiatan bermainnya disebut kegiatan meja.
2.      Bermain diluar ruangan
            Bermain diluar ruangan biasanya lebih banyak menimbulkan suara serta membutuhkan kekuatan dan lebih semangat. Bermain diluar ruangan membutuhkan lokasi yang luas untuk anak berlari, melompat dan bersepeda.
            Sebaiknya guru menyadari bahwa tempat luaar ruangan kelas tidak terbatas hanaya untuk mengembangkan otot atau gerakan kasar saja, tetapi dapat diguanakan untuk berbagai aktivitas yang dilakukan di dalam ruangan.
            Sarana dan prasarana bermain dengan mengutamakan perkembangan gerakan kasr harus ditata sedemikian rupa, sehingga tidak membahayakan anak-anak. Alat-alat yang digunakan di luar biasanya bersifat menantang, tetapi aman sehingga terhindar dari perasaan frustasi. Alat-alat yang akan dipergunakan diluar ruangan harus dicek setiap kali sehingga yakin bahwa keadaan alat-alat dalam kondisi yang baik.[6]
                Bermain bagi anak berkebutuhan khusus ( spesial needs ) membutuhkan pengaturan lingkungan secara khusus pula sehingga mereka dapat melakukan kegiatan bermainnya secara efektif. Misalnya, seorang anak yang menggunakan kursi roda tidak akan mampu bermain balok apabila balok tersebut diletakan dilantai.
            Anak yang perkembangannya terlambat, pada umumnya akan bermain seperti anak yang usianya lebih muda, mereka biasanya tdak mampu bermain bersama anak lain, dan tidak mampu memainkan kegiatan bermin dengan aturan tertentu. Bahkan beberapa anak perlu bimbingan khusus dalam aktivitas bermainnya.
            Gunsberg dalam Patmonodewo ( 2003 ) , mengemukakan bahwa kegiatan bermain dapat dimainkan secara berulang-ulang sangat baik untuk anak yang ditelantarkan. Dengan mempergunakan anat permainan para guru dapat melakukan pendekatan yang efektif, dengan memerikan respons kepada anak-anak yang diterlantarkan oleh orang tua mereka, bahkan anak-anak yang terlantarkan akan melakukan kelekataan dan percaya pada guru.[7]
            Anak dengan kebutuhan khusus perlu diperhatikan dengan khusus pula. Agar perkembangannya sesuai dengan yang diharapkan, inilah kiat yang pas untuk anak balita berkebutuhan khusus.
  1. Ketika bermain bersama, dorong balita untuk berbicara.
  2. Gunakan satu mainan pada satu waktu.
  3. Lantai dapat dipilih untuk tempat bermain yang aman.
  4. Gunakan kata-kata yang nyata sebanyak mungkin.
  5. Lakukan aktivitas yang ekspresif, seperti mengucapkan kata-kata dengan frasa-frasa pendek, melatih kalimat singkat, dan membaca keras-keras.
  6. Sesuaikan permainan dengan tingkatan si kecil.
  7. Jangan memaksa si kecil untuk bermain, ketika si kecil terlihat lelah atau frustasi.
  8. Ajari si kecil bertingkah laku dengan anak lain: menunggu giliran, adil, tidak menyakiti siapapun.
  9. Dorong si kecil untuk bertukar mainan, ajarkan untuk tidak merebut mainan dari anak lain.
  10. Gunakan mainan yang sesuai dengan karateristik si keciI.[8]
            Seperti  anak normal, anak berkebutuhan khusus juga membutuhkan alat bermain yang dapat menstimulasi otak dan membantu mereka mengeksplorasi sekeliling diantaranya:
a.       Sindroma down
  1. Boneka empuk dan lembut, karena kebutuhan untuk mendapatkan pelukan atau kehangatan sangat tinggi bagi penyandang sindroma down.
  2. Mainan dorong, bisa membantu anak latihan berjalan dan mendapatkan keseimbangan. Mainan dorong yang bisa berbunyi akan sekaligus menstimuli pendengarannya.
  3. Buku sentuh dan rasakan, karena melihat gambar, menyentuh, merasakan tekstur dan mendengarkan kata-kata saat dibacakan buku merangsang semua indera anak.
b.      Cerebral Palsy
  1. Mainan dengan remote control, yang bisa dioperasikan dengan satu tangan, seperti mobil-mobilan dengan remote control.
  2. Puzzle keping besar dilengkapi knop, agar mudah dipegang, dilepas dan dipasang kembali, baik untuk anak penyandang cerebral palsy yang memiliki kekakuan di bagian tangan. 
c.       Spektrum Autisme
  1. Kartu bergambar, karena anak penyandang autisme lebih mudah belajar secara visual. Kartu bergambar akan membantu mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.
  2. Bola dengan berbagai tekstur yang mudah digenggam membantunya belajar bermain, melempar dan menangkap yang bisa meningkatkan kesadaran indera perabanya.
  3. Mainan sebab akibat, misalnya mainan yang bila ditekan mengeluarkan suara. 
d.      Attention Deficit Hyper-activity Disorder (ADHD)
  1. Pelampung, anak ADHD memiliki banyak energi yang perlu disalurkan lewat aktivitas fisik. Olahraga seperti berenang bisa jadi salah satu cara.
  2. Balok mencocokkan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat sehingga membangkitkan kepercayaam diri anak ADHD yang bermasalah dalam menyelesaikan tugas yang perlu waktu lama.
  3. Krayon besar, memberi kesempatan anak ADHD melakukan sesuatu tanpa ada yang mengatakan benar-salah.[9]
E.     Masalah gender dalam bermain
            Cara bermain pada anak usia dini menunjuksn perbedaan anatara anak laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut telah dibawa sejak lahir, atau lebih ditentuakan secara genetik. Perbedaan tersebut juga disebabkan oleh cara pengasuhan yang berbesa sejak anak dilahirkan.
            Banyak dijumpai, bahwa anak laki-laki lebih banyak bermain secara kasar, leih aktif  dibandingkan cara bermain pada anak perempuan. Anak laki-laki juga lebih menyukai permainan ayang bersifat petualangan dan perang-peranganyang disertai unsur perlawan. Sedangkan anak perempuan lebih suka bermain yang alat permainan dan kegiataan bermain yang lebih bervariasi. Anak perempuan juga lebih suka bermain secara berkelompok kecil dan lebih sering mempunyai teman khayalan daripada anak laki-laki. Pada umumnya, dalam permainan anak usia dini cenderung memilih teman sejenis.
            Peran guru disini disarankan untuk tidak membedakan sarana dan kegiatan bermain antara anak laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, anak akan memiliki peluang yang sama dan luas, baik dalam mengembangkan kegiatan bermaain maupun keterampilannya sehingga menjadi kesinambungan nilai bermain tersebut baik di dalam pendidikan maupun di masyarakat lingkungan anak.[10]
            Sejalan denagan perkembangan dunia pendidikan dan kebijakan pemerintah khususnyya dalam pengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) , pemerinttah telah mempertegas Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ( SK-KD ) dalam didang pengembangan anak usia dini. Pleh karena itu, guru dituntut untuk mengembangkan silabus dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) secara cermat setiap bidang pengembangan sehingga kegiatan bermain tersebut mendapat dukungan dari lingkungan sekolah dan bermain dapat mengembangkan dan mewujudkan kompetensi anak.
            Dalam kegiatan bermain di sekolah, baik di kelas maupun luar kelas guru memiliki peran yang sanagt  penting. sedikitnya guru harus mampu memerankan dirinya sebagai:
a.       Sebagai perencana, guru harus mampu membuat RPP yang diintregrasikan dalam setiap permainan. Guru juga harus merencanakan pengalaman baru agar anak-anak terdorong untuk mengembangkan minatnya.
b.      Sebagai pengamat, guru harus melakukan pengamatan terhadap setiap kegiatan anak serta mengamati lamanyaa anak melakukan kegiatan bermain.
c.       Sebagai model, guru harus terjun langsung mengikuti kegiatan bermain yang sedang dilakukan anak-anak sehingga mereka harus memahami berbagai aturan dari setiap permainan tersebut, serta menghargai kagiatan bermain dan setiap permainan.
d.      Sebagai fasilitator, guru harus dapat memberikaan kemudahan kepada anak-anak dalam melakukan kegiataan bermain serta guru harus membantu anak-anak yang mendapatkan kesulitan dalam melakukan permainan tertentu.
e.       Sebagai elaborator, guru harus melakukan elaborasi. Guru harus mengembangkan daya pikir anak, melalui peran yang dilakukannya.
f.       Sebagai evaluator kegiatan beermain, guru bertugas mengamati dan melakukan penilai terhadap kegiatan bermain anak sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka masing-masing.[11]
            Bermain seraya belajar menekankan pada jenis permainannya. Artinya, ada jenis-jenis permainan yang tentunya lebih cocok atau bahkan didesain secara khusus untuk mempermudah anak dalam belajar.
            Dengan demikian, permainan yang dimaksud bukan hanya untuk mainan semata, tetapi peermainan yang dapat menstimulasi minat belajar anak. Oleh karena itu, jika anak mampu memainkan jenis mainan tertentu secar sempurna, maka anak tersebut dikatakan berhasi bermain secara belajar.[12]
            Dalam hal ini dapat dilihat bahwa ketika anak sedang bermain, sesungguhnya mereka sedang belajar. Kareana anak yang bermain adalah anak yang menyerap berbagai hal baru di sekitarnya. Proses ini disebut montessori sebagai aktivitas belajar.
            Dengan demikian, tekanan pada belajar seraya bermain adalah lebih mengutamakan belajar daripada bermain. Bermain hanya sebatas sarana dan bukan sebagai tujuan.[13]





















BAB III
PENUTUP
Sejalan dengan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat peat telah membberikan pengaruh yang sanagt besar dalam kegiatan dan kebiassaan bermain anak-anak. Pada saat ini, sebagian besar anak usia dini,, khususnya yang berada di perkotaan kebanyakan bermain dengan internet dan game watch.
Dalam bermain dengan game watch ini mereka sering lipa waktu, bahkan lupa makan dan susah mandi. Disini peran guru dan orang tua sangat diperlukan untuk mengarahkan kegiatan bermain lebih positif, dan tidak lupa waktu. Setiap guru dan orangtua senantiasa mengikuti perkembangan bermain anak-anak agar  mereka dapat mengarahkan kegiatan bermain anak secara positif, dan efektif.
            Dalam pengumpulan materi pembahasan diatas tentunya kami banyak mengalami kekurangan dan kesalahan, oleh karena itu hendaknya pembaca memberikan tanggapan dan tambahan terhadap makalah kami. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan  terimakasih.


Mulyana. 2012. Manajemen PAUD. Bandung: Rosda.
Suyadi. 2011. Manajemen PAUD. Yogyakata: Pustaka Pelajar.
http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/mainan-anak-berkebutuhan-khusus
online  17/12/2015  pukul 15:50 WIB




[1] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.165-169
[2] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.169-181.
[3] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm. 171-172.
[4] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.173-181
[5] Ibid,hlm.181.
[6] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.182-188
[7] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.188-189.
[9] http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/mainan-anak-berkebutuhan-khusus
[10] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.189-191
[11] Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.191-194.
[12] Suyadi, Menejemen PAUD, Pustaka Pelajar,2011,hlm.155-156.
[13] Suyadi, Menejemen PAUD, Pustaka Pelajar,2011,hlm.153-155

Tidak ada komentar:

Posting Komentar