BERMAIN SEBAGAI PEMBELAJARAN ANAK USIA DINI
Disusun
untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Bahasa Indonesia
Doden
pengampu:
Siti
Zubaedah,S.Ag.,M..pd
Disusun
oleh :
Nama : Dian Lestari
NIM : 15430079
Kelas : PGRA 1 C
No.abs : 7
FAKULTAS
TARBIYAH DAN KEGURUAN
PROGRAM
STUDI PENDIDIKAN GURU RAUDLATUL ATHFAL
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena dengan rahmat, karunia, serta hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah Bahasa Indonesia dengan materi pembahasan “ Bermain Sebagai Pembelajaran Anak Usia Dini ”
ini dengan baik meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima
kasih pada Ibu Siti Zubaedah,S.Ag.,M..p selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas ini
kepada kami.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka
menambah wawasan, pengetahuan serta penunjang atau referensi materi mata kuliah
Bahasa Indonesia terkait memahami Bermain Sebagai Pembelajaran Anak Usia Dini.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan
dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran
dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan
datang.
Semoga makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi
kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi. perbaikan di masa depan.
Yogyakarta,
7 Desember 2015
Penyusun
PENDAHULUAN
Pendidikan
usia dini merupakan usaha pemerintah dengan tujuan agar
anak-anak Indonesia memiliki bekal persiapan ketika melanjutkan pendidikan
kejenjang yang lebih tinggi.
Dalam implementasinya, PAUD berfugsi membina, dan menumbuh kembangkan seluruh
potensi anak secara optimal, agar
terbentuk perilaku dan kemampuan dasar yang selaras, serasi,dan seimbang dengan
tahap perkembangannya sehinggga memiliki keesiapan untuk memasuki pendidikan
selanjutnya dalam mewujudkan tujuan nasional. Tujuan pendidikan pada dasarnya
mengantarkan para siswa menuju pada perubahan-perubahan tingkah laku baik
intelektual, moral, maupun sosial anak agar dapat hidup mandiri sebagai
individu dan maphluk sosial.
Media
dalam proses pembelajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam
pembelajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar
yang dicapainya. Oleh karena itu penggunaan media pembelajaran sangat
dianjurkan untuk mempertinggi kualitas pembelajaran. Contoh dari media
pembelajaaran anak usia dini yang paling efektif dan efisien tepapai menunjukan
hasil yang sempurna adaalah melalui bermain.
Bermain
merupakan aktivitas yang paling disukai oleh semua manusia, bukn hanya manusia,
tetapi juga oleh binatang. Sering kita saksikan anak kucing sedang bermain-main
dengan saudaranya atau dengan temannya, demikian halnya dengan ayam dan burung
peliharaan kita, semuanya suka bermain. Dengan demikian, bermain sebenarnya
buakan hanya dunia anak, tetapi dunia kita semua, tidak tua, tidak muda
semuanya suka ermain. Bagi anak usia dini, bermain erupakan kegiatan yang tidak
dapat diisahkan dari setiap langkahnya sehngga semua aktivitasnya selalu
dimulai dan diakhiri dengan bermain.
1. Apa pentingnya
bermain bagi anak usia dini ?
2. Apa
sajakah jenis- jenis bermain ?
3. Bagaimana
bermain di sekolah ?
4. Bagaimana bermain
bagi anak berkebutuhan khusus ?
5. Apa
masalah gender dalam bermain ?
6. Bagaimana
guru dalaam bermain?
7. Bagaimana
proses bermain seraya belajar ?
8. Bagaimana
proses belajar seraya bermain ?
1. Memberi
pengetahuan tentang arti pentingnya bermain bagi anak usia dini.
2. Mengetahui jenis- jenis bermain.
3.
Memberi informasi bermain di sekolah.
4. Memberi pengetahuan mengenai bermain bagi anak berkebutuhan
khusus.
5. Mengetahui masalah gender dalam bermain.
6. Memberi
informasi mengenai guru dalaam bermain.
7. Mengetahui
proses bermain seraya belajar.
8. Mengetahui
proses belajar seraya bermain.
PEMBAHASAN
Bermain
bagia anak usia dini dapat mem
pelajari dan belajar banyak hal, dapat
mengenal aturan, bersosialisasi , menempatkan diri, menata emosi, toleransi, kerjasama,
dan menjunjung tinggi sportivitas. Disamping itu,aktivitas bermain juga dapat
mengembangkan kecerdasan mental, spiritual, bahasa, dan keterampilan motorik
anak usia dini. Oleh karena itu, bagi anak usia dini, tidak adaa hari tanpa
bermain, dan bagi mereka merupakan kegiatan pembelajaran yang sangat penting.
Bermain
juga menjadi prinsip pembelajaran di Taman Kanak-Kanak karna bermain merupakan
cara yang paling baik untuk mengembangkan kemampuan anak usia dini. Sebelum
sekolah, bermain merupakan cara ilmiah anak untuk menemukan lingkungan, orang
alain dan dirinya sendiri. Pada prinsipnya bermain menggandung rasa senang dan
lebih mementingkan proses daripada hasilnya.
Bermain
sebaagai pendekatan pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan perkembangan usia
dan kemampuan anak didik , sehingga dalam bermain haarus memperhatikan
kematangan dan tahap perkembangan anak didik, alat bermain atau alat bantu,
metode yang diguanakan, waktu dan tempat serta teman bermain. Melalui kegiatan
bermain yang dilakukan anak, guru akan mendapat gambaran tentang tahap
perkembangan dan kemampuan umum mereka.[1]
Berdasarkan
berbagai pengamatan terhadap kegiatan anak-anak dalam bermain, dan berbagai
hasil kajian beberapa ahli yang peduli terhadap perkembangan anak, dapat
dikemukakan berbagai jenis bermain yang sering dilakukan oleh anak usia dini,
antara lain adalah bermain sosial, bermain benda, bermain peran dan bermain
sosiodrama.
Dalam
bermain sosial, gurulah yang mengamati cara bermain anak, dan dia akan
memperoleh kesan bahwa partisipasi anak dalam kegiatan bermain dengan
teman-teemannya akan menunjukkan derajat partisipasi yang berbeda. Partern
mengelompokan kegiatan bermain berdasarkan derajat partisipasi seseorang dalam
bermain:
a.
Unoccupied
Play
( tidak peduli) adalah kgiatan bermain ketika anak hanya mengamati kejadian
yang menarik perhatiannya. Jika pendidik melihat anak masih ada pada tahap ini,
ajak ia untuk memperhatikan kegiatan temannya agar muncul keinginan dan
semangatnya untuk bermain.
b.
Solitary
Play ( bermain soliter) adalah kegiatan bermain yang
dilakukan oleh seorang anak, dan ketika bermain tidak memperhatikan apa yang
dilakukan anak lain disekitarnya.
c.
Onlooker
Play ( bermain sebagai penonton ) adalah bentuk bermain
ketika anaak hanya sebagai penonton saja, anak bermain sendiri sambil melihat
anak lain bermain di dalam ruangan yang sama.
d.
Parallel
Play ( bermain pararel) dalah kegiatan bermain yang
dilakukan sekelompok anak dengan mengguanakan alat permainan yang sama, tetapi
masing-masing bermain sendiri-sendiri.
e.
Assosiative
Play ( bermain asosiatif ), adalah kegiatan bermain yang dilakukan
oleh beberapa anak besama-sama, tetapi tidak ada pengaturan.
f.
Cooperative
Play ( bermain bersama ), adalah kegiatan bermain ketika
masing-masing anak menerima peran yang diberikan, dan dalam mencapai tujuan
bermain, mereka masing-masing melakukan peranya secara tergantung satu sama
lain dalam mencapai tujuan bermain. Dalam bermain kooperatif, anak-anak dari
berbagai kelompok usia akan menunjukan tahapan perkembangan bermain sosial yang
berbeda-beda.[2]
Bermain
dengan benda merupakan kegiatan bermain ketika anak dalam bermain menggunakan
atau mempermainkan benda-benda tertentu, dan benda-benda tersebut dapat menjadi
hiburan yang menyenangkan bagi anak yang bermainnya. Oleh karena itu,
lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini harus menyiapkan berbagai permainan,
sekaligus menyediakan benda-benda yang dapat digunakan secara aman dan nyaman
bagi anaak-anak dalam bermain.
Beberapa
tipe bermain dengaan benda menurut Piaget ( 1962 ) adalah sebagai berikut :
a. Bermain
praktis adalah bentuk bermain ketika anak-anak melakukan berbagai
kemungkinanmengeksplorasi berbagai objek yaang digunakan.
b. Bermain
simbolik adalah bentuk bermain diman anak-anak menggunakan imajinasi dalam
bermain.
c. Bermain
dengan aturan adalah bentuk bermain yang dapat dilakukan secara optimal apabila
syarat-syaarat dalam bermain dipenuhi dan dipatuhi oleh semua anak yang yang
sedang bermain. Syartat-syarat tersebut, antara lain berkaitan dengan waktu ( time ), tempat ( pleace ), peralatan ( things
), teman ( fellows ), aturan ( rules ).[3]
Pendidikan
anak usiaa dini sering dihadapakan oleh berbagai masalah, baik yang berkaitan
dengan bidang pengembangan maupun menyangkut hubungan sosial. Melalui permain
peran, anak dapat mencoba ngeksplorasi hubungan antarmanusia dengan cara
memperagakannya dan mendiskusikannya sehingga secara bersama dapat
mengeksplorasi perasaan, sikap, nilai dan berbagai strategi pemecahan masalah.
Sebagai
suatu model pembelajaran, bermain peran berakar pada dimensi pribadi dan sosial.
Dari dimensi pribadi model ini membantu anak-anak menemukan makna dari
lingkungan sosial yang bermanfaat bagi dirinya. Maka dari itu, melalui model
ini anak-anak diajak untuk belajaar memecahkan masalah pribadi yang sedang
dihadapinya dengan bantuan kelompok sosial yang beranggotakan teman temannya.
a. Konsep
peran
Peran
dapat didefiisikan sebagai suaatu rangkaian perasaan, ucapan dan tindakan,
sebagai suatu pola hubungan unik yang ditunjukan oleh individu terjadap
individu yang lain. Permainan yang dimainkan individu dalam hidupnya
dipengaruhi oleh perseepsi individu terhadap dirinya dan terhadap orang lain.
Oleh karena itu, untuk dapat berperan dengan baik, diperlukan pemahaman
terhadap peran pribadi dan orang lain. Pemahaman tersebuttidak terbatas pada
tindakan, tetapi pada faktor penentunya, yakni perasaan, persepsi dan sikap.
Bermain peran berusaha membantu individu
untuk memahami perannya sendiri dan peran yang dimainkan orang lain sambil
mengerti perasaan, sikap dan nilai-nilai yang mendasarinya.
b. Tujuan
bermain peran dalam PAUD
Bermain
peran dalam pendidikan anak usia dini merupakan usahan untuk memecahkan masalah
melalui peragaan, serta lankah-langkah identifikasi masalah, analisis,
pemeranan, dan diskusi.
Hakikat
bermain peran dalam pembelajaran PAUD terletak pada keterlibatan emosional
pemeran dan pengamat dalam situasi masalah yang secara nyata dihadapi. Melalui
bermain peran dalam pembelajaran, diharapkan anak-anak mampu mengeksplorasi
perasaan-perasaannya, memperoleh wawasan tentang sikap, nilai dan persepsi,
mengembangkan keterampilan dan sikap dalam memecahkan masalah yang dihadapi dan
dapat mengeksplorasi inti permasalahan yang diperankan melalui berbagai cara.
c. Asumsi-asumsi
pembelajaran
Terdapat
empat asumsi yang mendasari pembelajaran bermaain peran untuk mengembangkan
perilaku dan nilai sosial, yang kedudukannya sejajar dengan model-model
pembelajaran yang lainnya. empat asumsi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Bermain
peran secara implisit mendukung situasi belajar berdasarkan pengalaman dengan
menitikberatkan tema pembelajaran pada situasi “ disini pada saat ini “. Metode
ini depercaya bahwa anak-anak dimungkinkan untuk menciptakan analogi-analogi
mengenai situasi-situasi kehidupan nyata.
2. Bermain
peran memungkinkan anak-anak untuk mengungkapkan perasaan-perasaannya yang
tidak dapat dikenal tanpa tercemin pada orang lain.
3. Model
bermain peran berasumsi bahwa emosi dan ide-ide dapat diangkat ke taraf sadar
untuk kemudian ditingkatkan melalui proses kelompok.
4. Model
bermain peran berasumsi bahwa proses psikologis yang tersembunyi, berupa sikap,
nilai, perasaan, dan sistem keyakinan, dapat diangkat ke taraf sadar melalui
kombinasi pemeranan secara spontan.
d. Pelaksanaan
pembelajaran
Terdapat
tiga hal yang menentukan kualitas daan keefktifan bermain peran sebagai model
pembelajaran, yakni kualitas pemeranan, analisis dalam diskusi, dan pandangan
peserta didik terhadap peran yang ditampilkan dibandingkan dengan situasi
kehidupan.
1) Tahap
pembelajaran
Menurut
Shaftel ( 1967 ) ada sembilan tahap bermain peran yang dapat dijadikan pedoman
dalam pembelajaran diantaranya:
a) Menghangatkan
suasana dan memotivasi anak
Pada
tahap ini termasuk mengantarkan anak-anak terhadap masalah pembelajaran. Disini
peran guru mengemukakan masalah. Masalah yang dipilih sebaiknya sangat aktual,
langsung menyangkut kehidupan anak, menarik dan merangsang rasa ingin tahu,
serta memungkinkan berbagai alternatif pemecahan.
b) Memilih
peran dan pembelajaran.
Pada
tahap ini anak-anak dan guru mendiskripsikan berbagai berbagai watak atau
karakter, apa yang mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus
mereka kerjakan, kemudian anak-anak diberi kesempatn secara sukarela untuk
menjadi pemeran.
c) Menyusun
tahp-tahap peran.
Pada
tahap ini para pemeran menyusun garis-garis bedan adegan yang akan dimainkan.
Dalam hal ini, tidak perlu ada dialog khusus karena anak-anak dituntut untuk
bertidak dan berbicara secara spontan.
d) Menyiapkan
pengamat.
Pengamat
sebaiknya dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan
dimainkan agar anak turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan dan
aktif mendiskusikannya.
e) Tahap
pemeranan.
Pada
tahap ini, anak-anak mulai beraksi secara sponan, sesuai dengan peran
masing-masing. Mereka berusaha memainkan setiap peran seperti benar-benar
dialaminya.
f) Diskusi
dan evaluasi pembelajaran
Dikusi
akan mudah dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain
peran, baik secara emodional maupun secara intelektual.
g) Pemeranan
ulang
Dapat
dilakukan berdasakan hasil evaluasi dan diskusi mengenai alternatif-ltrnatif
pemeranan.
h) Diskusi
dan evaluasi tahap dua
Tahap
ini dimaksudkan untuk menganalis hasil pemeranan ualang, dan pemecahan masalah
pada tahap ini mungkin sudah lebih jelas.
i)
Membagi pengalaman dan pengambilan
kesimpulan
Tahp
ini tidak harus menghasilkan generalisasi secara langsung karena tujuan utama
bermain peran adalah memantu anak-anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman
berharga dalam kehidupannya melalui kegiatan interaksional dengan
teman-temannya. Mereka bercermin pada orang untuk lebih memahami dirinya.
Keberhasilan
bermain peran tergantung pada kemampuan dalam mengungkap pengalaman pribadi
anak-anak. Melalui bermain peran pula anak-anak dapat berlatih untuk menerapkan
prinsip-prinsip demokrasi.
2) Sistem
sosial
Sistem
sosial dari model ini disusun secara sederhana. Guru bertanggung jawab minimal
pada tahap permulaan. Selanjutnya guru membimbing para pesertadidik untuk
melanjutkan kegatan sesuai langkah-langkah yang diterapkan. Intervensi guru
perlu dikurangi ketika bermain peran telah memasuki taham pemeranan dan
diskusi, dalam kedua tahap ini peserta didiklah yang harus lebih aktif.
3) Prinsip
reaksi
Sedikitnya
terdapat lima prinsip reaksi penting dari model pembelajaran bermain peran.
Pertama, guru selayaknya menerima respon anak-anak, terutama yang berkaitan
dengan pendapat dan perasaanya, tanpa penilaian baik atau buruknya reaksi yang
diberikan. Kedua guru membantu mengeksplorasi situasi dari berbagai segi,
membantu mencari titik temu dan perbedaan dari pandangan-pandangan yang
dikemukakan anak-anak. Ketiga, dengan cara menganalis, merefleksikan, dan
menangkap respon anak-anak guru berupaya meningkatakan kesadaran mereka akan
pandangan dan perasaan-perasaaanya sendiri. Keempat, guru perlu menekankan
kepada anak-anak bahwa banyak cara untuk memainkan suatu peran. Kelima, guru perlu meneekankan kepada
anak-anak bahwa bangak cara memecahkan suatu masalah.
4) Sistem
penunjang
Sistem
penunjang dalam bermain peran cukup sederhana, tetapi sangat penting. hal yang
apaling penting dalam bermain peran adalah situasi masalah, yang biasanya
secara lisan, tetapi dapat juga dikemukakan melalui lembaran-lembaran yang
dibagikan kepada anak-anak. Dalam lembaran-lembaran tersebut dikemukakan
perincian langkah-langkah yang akan diperaankan lengkap dengan watak pemeran
masing-masing.[4]
4. Sosiodrama
Sosiodrama
merupakan kegiatan bermain yang banyak disukai dan diminati oleh anak-anak.
Smilansky ( dalam Patmonodewo, 2003:107 ) mengamati bahwa bermain sosiodarama
memiliki beberapa elemen berikut:
a. Bermain
dengan melakukan imitasi.
b. Bermain
pura-pura seperti suatu objek.
c. Bermain
peran dengan menirukan gerakan.
d. Persisten.
e. Interaksi.
f. Komunikasi
verbal.
Sosiodrama memiliki peran yang sangat penting dalam
mengembangkan kreativitas, intelektual, dan keterampilan sosial.[5]
Dalam
beberapa hal bermain di ssekolah berbeda dengann bermain di rumah. Biasanya di
sekolah memiliki kesempatan bermain dalam kelompk lebih besr daripada di rumah.
Dalam bermain di sekolah, anak sering sekali mengalami berbagai gangguan dari
teman-temannya sehingga mereka perlu belajar mengatasi gangguan berikut. Guru
juga biasanya lebih sering berusaha melakukan perencanaan pembelajaran
dibandingkan orang tua mereka pada umumnya.
Bermain
disekolah dapat membantu perkembangan anak apabila gurru cukup memberikan
waktu, ruang, materidan kegiatan bermain yang tepat. Anak-anak membutuhkan
waktu tertentu untuk mengembangkan keterampilan dalam bermain. Tersedianya
ruang dan materi mainan merupakan prasyarat tumbuhnya bermain yang produktif.
Sejalan
dengan perkembangan usia dan kematangan anak, sedikit demi sedikit mereka akan mengurangi
kegiatan bermain di dalam kelas, bukan karena bosan atau tidak suka lagi
bermain, tetapi mereka mulai berkonsentrasi pada pembelajaran. Bermain di
lembaga-lembaga pendidikan ank usia dini pada umumnya dapat dilakukan didalam
dan diluar ruangan.
1. Bermain
di dalam ruangan.
Bermain
dalam ruangan biasanya leih sedikit lebih tenangdan ruanganya lebih luas karena
ruangan untuk bermain biasanya dirancang dan ditata sedemikian rupa sehingga
dapat dipergunakan untuk berbagai macam kegiatan. Pada umumya, setiap kegiatan
bermain biasanya memiliki ruangan dan anak-anak tersendiri.
Dalam
rangka memperlancar kegiatan anak dalam bermain, guru harus berusaha
menyegiakan berbagai macam alat dan perlengkapan untuk memperluas ide bermain
anak. Umunya kelas untuk anak usia dini memiliki saranaa bermain dengan
menggunakan meja, kegiatan bermainnya disebut kegiatan meja.
2. Bermain
diluar ruangan
Bermain
diluar ruangan biasanya lebih banyak menimbulkan suara serta membutuhkan
kekuatan dan lebih semangat. Bermain diluar ruangan membutuhkan lokasi yang
luas untuk anak berlari, melompat dan bersepeda.
Sebaiknya
guru menyadari bahwa tempat luaar ruangan kelas tidak terbatas hanaya untuk
mengembangkan otot atau gerakan kasar saja, tetapi dapat diguanakan untuk
berbagai aktivitas yang dilakukan di dalam ruangan.
Sarana
dan prasarana bermain dengan mengutamakan perkembangan gerakan kasr harus
ditata sedemikian rupa, sehingga tidak membahayakan anak-anak. Alat-alat yang
digunakan di luar biasanya bersifat menantang, tetapi aman sehingga terhindar
dari perasaan frustasi. Alat-alat yang akan dipergunakan diluar ruangan harus
dicek setiap kali sehingga yakin bahwa keadaan alat-alat dalam kondisi yang
baik.[6]
Bermain
bagi anak berkebutuhan khusus ( spesial needs ) membutuhkan pengaturan
lingkungan secara khusus pula sehingga mereka dapat melakukan kegiatan
bermainnya secara efektif. Misalnya, seorang anak yang menggunakan kursi roda
tidak akan mampu bermain balok apabila balok tersebut diletakan dilantai.
Anak
yang perkembangannya terlambat, pada umumnya akan bermain seperti anak yang
usianya lebih muda, mereka biasanya tdak mampu bermain bersama anak lain, dan
tidak mampu memainkan kegiatan bermin dengan aturan tertentu. Bahkan beberapa anak
perlu bimbingan khusus dalam aktivitas bermainnya.
Gunsberg
dalam Patmonodewo ( 2003 ) , mengemukakan bahwa kegiatan bermain dapat
dimainkan secara berulang-ulang sangat baik untuk anak yang ditelantarkan.
Dengan mempergunakan anat permainan para guru dapat melakukan pendekatan yang
efektif, dengan memerikan respons kepada anak-anak yang diterlantarkan oleh
orang tua mereka, bahkan anak-anak yang terlantarkan akan melakukan kelekataan
dan percaya pada guru.[7]
Anak
dengan kebutuhan khusus perlu diperhatikan dengan khusus pula. Agar
perkembangannya sesuai dengan yang diharapkan, inilah kiat yang pas untuk anak
balita berkebutuhan khusus.
- Ketika
bermain bersama, dorong balita untuk berbicara.
- Gunakan
satu mainan pada satu waktu.
- Lantai
dapat dipilih untuk tempat bermain yang aman.
- Gunakan
kata-kata yang nyata sebanyak mungkin.
- Lakukan
aktivitas yang ekspresif, seperti mengucapkan kata-kata dengan frasa-frasa
pendek, melatih kalimat singkat, dan membaca keras-keras.
- Sesuaikan
permainan dengan tingkatan si kecil.
- Jangan
memaksa si kecil untuk bermain, ketika si kecil terlihat lelah atau
frustasi.
- Ajari
si kecil bertingkah laku dengan anak lain: menunggu giliran, adil, tidak
menyakiti siapapun.
- Dorong
si kecil untuk bertukar mainan, ajarkan untuk tidak merebut mainan dari
anak lain.
- Gunakan
mainan yang sesuai dengan karateristik si keciI.[8]
Seperti
anak normal, anak berkebutuhan khusus
juga membutuhkan alat bermain yang dapat menstimulasi otak dan membantu mereka
mengeksplorasi sekeliling diantaranya:
a. Sindroma down
- Boneka empuk dan lembut, karena kebutuhan untuk
mendapatkan pelukan atau kehangatan sangat tinggi bagi penyandang sindroma
down.
- Mainan dorong, bisa membantu anak latihan berjalan dan mendapatkan
keseimbangan. Mainan dorong yang bisa berbunyi akan sekaligus menstimuli
pendengarannya.
- Buku sentuh dan rasakan, karena melihat gambar,
menyentuh, merasakan tekstur dan mendengarkan kata-kata saat dibacakan
buku merangsang semua indera anak.
b. Cerebral
Palsy
- Mainan dengan remote control, yang bisa dioperasikan dengan
satu tangan, seperti mobil-mobilan dengan remote control.
- Puzzle keping besar dilengkapi knop, agar mudah dipegang, dilepas
dan dipasang kembali, baik untuk anak penyandang cerebral palsy yang
memiliki kekakuan di bagian tangan.
c. Spektrum
Autisme
- Kartu bergambar, karena anak penyandang autisme
lebih mudah belajar secara visual. Kartu bergambar akan membantu
mengembangkan kemampuannya berkomunikasi.
- Bola dengan berbagai tekstur yang mudah digenggam
membantunya belajar bermain, melempar dan menangkap yang bisa meningkatkan
kesadaran indera perabanya.
- Mainan sebab akibat, misalnya mainan yang bila
ditekan mengeluarkan suara.
d. Attention
Deficit Hyper-activity Disorder (ADHD)
- Pelampung, anak ADHD memiliki banyak energi yang perlu disalurkan
lewat aktivitas fisik. Olahraga seperti berenang bisa jadi salah satu
cara.
- Balok mencocokkan yang bisa diselesaikan dalam waktu singkat sehingga
membangkitkan kepercayaam diri anak ADHD yang bermasalah dalam
menyelesaikan tugas yang perlu waktu lama.
- Krayon besar, memberi kesempatan anak ADHD melakukan sesuatu tanpa
ada yang mengatakan benar-salah.[9]
E.
Masalah
gender dalam bermain
Cara
bermain pada anak usia dini menunjuksn perbedaan anatara anak laki-laki dan
perempuan. Perbedaan tersebut telah dibawa sejak lahir, atau lebih ditentuakan
secara genetik. Perbedaan tersebut juga disebabkan oleh cara pengasuhan yang
berbesa sejak anak dilahirkan.
Banyak
dijumpai, bahwa anak laki-laki lebih banyak bermain secara kasar, leih
aktif dibandingkan cara bermain pada
anak perempuan. Anak laki-laki juga lebih menyukai permainan ayang bersifat
petualangan dan perang-peranganyang disertai unsur perlawan. Sedangkan anak
perempuan lebih suka bermain yang alat permainan dan kegiataan bermain yang
lebih bervariasi. Anak perempuan juga lebih suka bermain secara berkelompok
kecil dan lebih sering mempunyai teman khayalan daripada anak laki-laki. Pada
umumnya, dalam permainan anak usia dini cenderung memilih teman sejenis.
Peran
guru disini disarankan untuk tidak membedakan sarana dan kegiatan bermain
antara anak laki-laki dan perempuan. Dengan demikian, anak akan memiliki
peluang yang sama dan luas, baik dalam mengembangkan kegiatan bermaain maupun
keterampilannya sehingga menjadi kesinambungan nilai bermain tersebut baik di
dalam pendidikan maupun di masyarakat lingkungan anak.[10]
Sejalan
denagan perkembangan dunia pendidikan dan kebijakan pemerintah khususnyya dalam
pengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) , pemerinttah telah
mempertegas Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ( SK-KD ) dalam didang
pengembangan anak usia dini. Pleh karena itu, guru dituntut untuk mengembangkan
silabus dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran ( RPP ) secara cermat
setiap bidang pengembangan sehingga kegiatan bermain tersebut mendapat dukungan
dari lingkungan sekolah dan bermain dapat mengembangkan dan mewujudkan
kompetensi anak.
Dalam
kegiatan bermain di sekolah, baik di kelas maupun luar kelas guru memiliki
peran yang sanagt penting. sedikitnya
guru harus mampu memerankan dirinya sebagai:
a. Sebagai
perencana, guru harus mampu membuat RPP yang diintregrasikan dalam setiap
permainan. Guru juga harus merencanakan pengalaman baru agar anak-anak
terdorong untuk mengembangkan minatnya.
b. Sebagai
pengamat, guru harus melakukan pengamatan terhadap setiap kegiatan anak serta
mengamati lamanyaa anak melakukan kegiatan bermain.
c. Sebagai
model, guru harus terjun langsung mengikuti kegiatan bermain yang sedang
dilakukan anak-anak sehingga mereka harus memahami berbagai aturan dari setiap
permainan tersebut, serta menghargai kagiatan bermain dan setiap permainan.
d. Sebagai
fasilitator, guru harus dapat memberikaan kemudahan kepada anak-anak dalam
melakukan kegiataan bermain serta guru harus membantu anak-anak yang
mendapatkan kesulitan dalam melakukan permainan tertentu.
e. Sebagai
elaborator, guru harus melakukan elaborasi. Guru harus mengembangkan daya pikir
anak, melalui peran yang dilakukannya.
f. Sebagai
evaluator kegiatan beermain, guru bertugas mengamati dan melakukan penilai terhadap
kegiatan bermain anak sehingga dapat memenuhi kebutuhan mereka masing-masing.[11]
Bermain
seraya belajar menekankan pada jenis permainannya. Artinya, ada jenis-jenis
permainan yang tentunya lebih cocok atau bahkan didesain secara khusus untuk
mempermudah anak dalam belajar.
Dengan
demikian, permainan yang dimaksud bukan hanya untuk mainan semata, tetapi
peermainan yang dapat menstimulasi minat belajar anak. Oleh karena itu, jika
anak mampu memainkan jenis mainan tertentu secar sempurna, maka anak tersebut
dikatakan berhasi bermain secara belajar.[12]
Dalam
hal ini dapat dilihat bahwa ketika anak sedang bermain, sesungguhnya mereka
sedang belajar. Kareana anak yang bermain adalah anak yang menyerap berbagai
hal baru di sekitarnya. Proses ini disebut montessori sebagai aktivitas
belajar.
Dengan
demikian, tekanan pada belajar seraya bermain adalah lebih mengutamakan belajar
daripada bermain. Bermain hanya sebatas sarana dan bukan sebagai tujuan.[13]
BAB
III
PENUTUP
Sejalan
dengan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berlangsung sangat peat telah
membberikan pengaruh yang sanagt besar dalam kegiatan dan kebiassaan bermain
anak-anak. Pada saat ini, sebagian besar anak usia dini,, khususnya yang berada
di perkotaan kebanyakan bermain dengan internet dan game watch.
Dalam
bermain dengan game watch ini mereka
sering lipa waktu, bahkan lupa makan dan susah mandi. Disini peran guru dan
orang tua sangat diperlukan untuk mengarahkan kegiatan bermain lebih positif,
dan tidak lupa waktu. Setiap guru dan orangtua senantiasa mengikuti
perkembangan bermain anak-anak agar
mereka dapat mengarahkan kegiatan bermain anak secara positif, dan
efektif.
Dalam
pengumpulan materi pembahasan diatas tentunya kami banyak mengalami kekurangan
dan kesalahan, oleh karena itu hendaknya pembaca memberikan tanggapan dan
tambahan terhadap makalah kami. Sebelum dan sesudahnya kami ucapkan terimakasih.
Mulyana.
2012. Manajemen PAUD. Bandung: Rosda.
Suyadi.
2011. Manajemen PAUD. Yogyakata:
Pustaka Pelajar.
http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/mainan-anak-berkebutuhan-khusus
online 17/12/2015
pukul 15:50 WIB
[1]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.165-169
[2]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.169-181.
[3]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm. 171-172.
[4]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.173-181
[5]
Ibid,hlm.181.
[6]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.182-188
[7]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.188-189.
[9]
http://www.ayahbunda.co.id/balita-bermain-permainan/mainan-anak-berkebutuhan-khusus
[10]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.189-191
[11]
Mulyana, Menejemen PAUD, Rosda, Bandung,2012, hlm.191-194.
[12]
Suyadi, Menejemen PAUD, Pustaka Pelajar,2011,hlm.155-156.
[13]
Suyadi, Menejemen PAUD, Pustaka Pelajar,2011,hlm.153-155

Tidak ada komentar:
Posting Komentar